Pers(ib) – Pers dan Persib

Oleh Eko Noer Kristiyanto

koran persibFASE awal Piala Presiden 2018 yang digelar di Bandung menyisakan cerita menarik tentang hubungan antara Persib dan media (pers). Tercatat ada dua peristiwa yang mewakili cerita menarik tersebut.

Pertama, pernyataan Djadjang Nurdjaman tentang kerinduannya dengan atmosfer konferensi pers di Bandung yang selalu dihadiri sangat banyak media. Hal itu berbeda dengan suasana di kota lain termasuk Medan, kota tempat Kang Djadjang menukangi PSMS.

Kedua, keputusan panpel Persib yang menarik kartu identitas peliputan wartawan viva.co.id menyusul pemberitaan kericuhan yang dianggap hoaks saat Persib menghadapi PSMS. Dalam perjalanannya sebagai tim legendaris tanah air, Maung Bandung memang selalu terkait dengan pemberitaan berbagai media, sebuah simbiosis yang produktif jika masing-masing pihak memainkan perannya dengan baik.

Wartawan Persib
Jika selama ini kita mengenal segmen wartawan ekonomi, wartawan politik, wartawan olah raga, dan sebagainya, bisa jadi hanya di Bandung kita akan menemukan istilah wartawan yang identik dengan klub sepak bola lokal, alias wartawan Persib.

Istilah ini merujuk kepada mereka yang memang hanya menjadikan Maung Bandung sebagai objek liputan karena cerita tentang Persib dan bobotoh seakan tak ada habisnya. Semua bisa dibicarakan dan dibahas melalui berbagai perspektif.

Saya masih ingat betul keterkejutan wartawan-wartawan kota lain saat Maung Bandung menjalani laga tandang karena menurut mereka jumlah wartawan dari Bandung yang melakukan liputan banyak sekali jumlahnya.
Bahkan di beberapa kota, justru jumlah wartawan setempat jauh lebih sedikit daripada wartawan yang datang dari Bandung.

Persib memang layak dijadikan objek utama pemberitaan media-media di Bandung. Perhatian publik yang sangat besar terhadap Maung Bandung tentu selaras dengan logika media.

Sekitar 20 tahun lalu, jika kita bicara Persib, mungkin akan sangat identik dengan media Pikiran Rakyat. Wajar saja karena walau beberapa media tetap menjadikan Maung Bandung sebagai objek pemberitaan, tetapi Pikiran Rakyat dianggap lebih kredibel dan serius sebagai media.

Dengan segmen yang luas, Pikiran Rakyat selalu tak ragu menjadikan hasil laga Maung Bandung sebagai headline walau bisa jadi ada isu nasional yang tak kalah penting.

Bahkan setelah kehadiran Galamedia yang lebih bernuansa lokal Bandung, Pikiran Rakyat tetap lekat dengan Persib dan bisa dibilang paling diperhitungkan. Pernah ada beberapa isu Persib yang tetap dijadikan sekadar isu hanya karena Pikiran Rakyat belum memberitakannya.

Sekitar Tahun 2000-an, media yang khusus memberitakan Persib lebih bervariasi. Tak hanya koran, tetapi juga radio dan televisi lokal. Pilihan bobotoh untuk menikmati Persib mulai bertambah, tak hanya sekadar membaca koran, tetapi mengikuti isu secara audio dan visual jauh lebih intens daripada suguhan suara dan gambar yang biasanya terbatas laga yang disiarkan oleh RRI dan TVRI.

koran persib

Transformasi media dalam satu dekade terakhir turut memberi dampak kepada pemberitaan di segmen Persib. Menjamurnya media online membuat arus informasi menjadi semakin cepat dan sulit dibatasi. Di sisi lain, akurasi dan kualitas berita cenderung diabaikan. Maka, tak hanya isu SARA atau politik yang rentan diwarnai hoaks, berita Persib pun demikian.

Hal itu diperparah dengan beberapa pihak yang mengaku insan pers, tetapi hanya mengandalkan pemberitaan melalui akun media sosial. Padahal, sejatinya media sosial hanyalah sarana penunjang dari portal online utama suatu media resmi.

Peran Media
Dahulu, ketika belum marak media online dan indikator media masih berbasis oplah penjualan, berita tentang kemenangan Maung Bandung pasti akan mendongkrak oplah. Saya mengalami betul cukup sulitnya mendapatkan koran Pikiran Rakyat jika Maung Bandung menuai hasil positif.

Terlebih, ada masanya kala pertandingan tandang Maung Bandung hari itu hanya akan dapat kita ketahui saat membaca koran keesokan harinya. Kondisi itu jauh berbeda dengan hari ini ketika hasil pertandingan dapat terus kita pantau melalui berbagai media online.

Terkait oplah ini pula, saya mendengar strategi salah satu media besar nasional untuk “mengganggu” kokohnya Pikiran Rakyat di Jawa Barat. Caranya adalah menjadikan Maung Bandung sebagai objek utama pemberitaan dan memberi porsi cukup besar pada salah satu koran yang menjadi bagian dari grup mereka.

Bahkan, sempat ada dua halaman penuh yang memuat aspirasi dan unek-unek bobotoh yang bisa dikirim melalui SMS. Tampaknya, strategi ini bisa jadi berhasil karena dengan harga yang sangat terjangkau (dulu harganya hanya Rp 1.000) koran ini begitu diminati oleh anak sekolahan dan segmen bobotoh yang hanya ingin tahu tentang berita Persib.

Akan tetapi, parameter dan perbandingan di segmen ini tak relevan lagi seiring segmen online yang juga digarap serius oleh media konvensional. Maraknya media yang memberitakan Maung Bandung berimplikasi juga kepada cara pandang dan pemilihan posisi terhadap tim.

Jika dahulu media seakan hanya turut bersuka cita dan menjadi corong keberhasilan tim karena hal tersebut memang disukai pembaca, kini isu yang disasar pewarta Persib mencakup juga isu-isu sensitif yang tak jarang justru berseberangan dengan kebijakan Persib itu sendiri.

Hal itu sebenarnya cukup menggembirakan karena salah satu esensi pers adalah kontrol, seperti apa yang berkembang setelah media sukses membongkar insiden “watergate”-nya Richard Nixon di Amerika Serikat.
Maka, pers dianggap sebagai pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sekarang memang bukan zamannya lagi media berperan sebagai corongnya Persib karena peran itu sudah diambil alih oleh media officer PT. Persib Bandung Bermartabat. Namun, penting untuk diperhatikan bahwa dalam konteks berseberangan sekalipun, media-media Persib tetap harus mengedepankan kualitas dan akurasi dalam pemberitaan, serta tentunya etika jurnalistik.

Dalam konteks kekinian, percayalah, dengan tersingkirnya Maung Bandung dari ajang Piala Presiden 2018, hal itu akan berdampak terhadap rating televisi secara keseluruhan karena Persib dan bobotoh selalu menjadi variabel menentukan dalam kiprah media yang memilih bergerak di segmen sepak bola nasional.

Eko Noer Kristiyanto
(Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat)***

Leave a Comment

(required)

(required)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.